GUA PAWON PADALARANG

gua pawon

Paketbandung.com – Gua Pawon Padalarang pasti bukan sebuah nama yang asing bagi mereka yang sering pergi ke Bandung atau Jakarta melalui Puncak. Tetapi apa keistimewaan tempat tersebut? Yang terlihat hanya bukit-bukit kapur yang sudah mulai menipis karena ditambang untuk dijadikan marmer. Selain itu, jika melewati daerah tersebut, tidak jarang kita merasa kesal karena harus sabar mengemudi di belakang truk-truk yang penuh berisi bongkahan batu yang berjalan pelan, sehingga mengganggu perjalanan kita.

Ternyata di daerah tersebut ada sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Pawon. Gua ini terletak di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dekat dengan Padalarang. Di belakang deretan penjual batu nisan dan marmer (jika dari Jakarta) kita bisa mengambil jalan ke kiri. Di mulut jalan itu terdapat gapura dengan tulisan Gua Pawon. Untuk mencapai gua kita masih harus berjalan terus sekitar 2 km hingga sampai ke sebuah tempat parkir yang cukup luas, dan gua itu terletak tidak jauh dari tempat parkir tersebut.

Setelah membayar tiket masuk, berjalanlah penulis dan beberapa teman ke gua tersebut. Ternyata bukan hanya kami yang saat itu mengunjungi gua tersebut, karena kami bertemu dengan tiga orang lain yang juga tertarik mengunjungi Gua Pawon. Kami pun akhirnya bergabung dengan kelompok tersebut. Dengan ditemani seorang pemandu, kami pun mulai memasuki gua.

Saat mendekati mulut gua, bau kotoran kelelawar menyengat hidung kami. Betul-betul membuat kepala ini menjadi pening. Untungnya salah satu bapak yang bersama kami membawa obat gosok dan mulailah kami mengoleskan obat gosok tersebut di hidung kami untuk mengalahkan bau kotoran kelelawar yang sangat kuat itu.

Keadaan gua tersebut tidak spektakuler, tapi cukup menarik. Gua tersebut terdiri dari ruangan-ruangan yang cukup besar. Sayang sekali stalagtit dan stalagmit yang ada di gua tersebut tidak terlalu banyak, bahkan ada yang sudah dipotong supaya tidak menghalangi jalan bagi pengunjung yang akan memasuki celah gua yang lain. Gua tersebut terdiri dari ruangan-ruangan yang cukup besar. Di bagian luar gua terdapat sebuah replika orang purba dalam posisi sedang meringkuk. Tempat itu dipagari agar tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil pengunjung.

Setelah puas mengunjungi gua dan karena sudah tidak kuat lagi mencium kotoran kelelawar, kami memutuskan untuk keluar dari gua. Saat berbincang-bincang dengan pemandu setempat, kami mendapat informasi bahwa kami juga bisa pergi ke sebuah bukit yang berada tidak jauh dari tempat itu yang disebut gunung Masigit. Agar tidak penasaran, bersama dengan rombongan bapak-bapak yang juga tertarik untuk pergi bersama kami, pergilah kami ke sana dengan diantar oleh pemandu itu.

Jalan yang kami lewati cukup sempit, dan terkadang kami harus berpapasan dengan truk-truk besar yang membawa bongkahan-bongkahan batu kapur. Akhirnya kami sampailah kami di suatu tempat yang berada di belakang sebuah pabrik. Udara saat itu panas dan berdebu dan sepertinya tingkat polusinya cukup tinggi. Kami pun memarkir mobil kami di depan sebuah warung dan mulailah kami berjalan menuju gunung Masigit tersebut.

Kami mulai berjalan di bawah terik panas matahari. Kami harus menyibak rerumputan yang tumbuh tinggi. Di sana tidak banyak pepohonan tinggi yang melindungi kami dari panas matahari. Jalanan pun mulai mendaki. Setelah sampai di ketingian, kami baru bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitar. Semakin tinggi kami mendaki semakin indah pemandangan yang ditawarkan.

Dari atas bukit tersebut kita bisa melihat kepulan asap dari pabrik yang menambang batu-batu kapur di kawasan itu. Kita juga bisa melihat hijaunya sawah yang ada di bawah. Perasaan senang bercampur sedih muncul pada saat itu. Senang karena kami beruntung dapat menikmati keindahan alam yang ada di sana, dan sedih karena kami tidak tahu sampai kapan batuan-batuan kapur tersebut akan masih bisa berdiri kokoh di situ?

1400564956843073346
Memandang ke luar dari dalam Gua Pawon

14005650102003216492
Gunung Masigit

1400565178883519175
Replika orang purba

14005652441530426848
Polusi: pemandangan dari gunung Masigit